Besok, APM Bersama Dinsos PPA Gelar Kegiatan Gerakan Stop Perkawinan Anak di Bawah Usia 19 Tahun

Balairakyat.id,-

Merangin – Aliansi Perempuan Mandiri (APM) bersama Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPA) Merangin semakin memperkuat gerakan Stop Perkawinan Anak sebagai bentuk komitmen melindungi hak-hak perempuan dan anak di daerah tersebut.

Kegiatan kolaboratif ini digelar sebagai upaya menekan angka perkawinan anak yang masih terjadi di beberapa wilayah. Melalui sosialisasi, edukasi, dan penguatan jejaring komunitas, APM dan Dinsos PPA memastikan bahwa pencegahan dilakukan secara menyeluruh, baik di tingkat keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Direktur APM Merangin Marsiyam, membenarkan bahwa besok, Selasa 25 November 2025, akan dilaksanakan kegiatan sosialisasi terkait hal tersebut di aula Bappeda Merangin. Menurutnya, kegiatan itu bertujuan untuk mencegah terjadinya perkawinan anak di bawah usia 19 tahun, serta meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya perkawinan anak.

“Selanjutnya, membangun komitmen bersama antara pemerintah, organisasi perempuan, dan masyarakat
Agar pencegahan lebih kuat, kemudian, memperkuat perlindungan anak secara menyeluruh dan
Menjamin anak mendapatkan hak untuk tumbuh, belajar, dan berkembang tanpa paksaan menikah dini. Seterusnya, menekan angka kasus perkawinan anak di Merangin
Dengan tindakan nyata, pendampingan keluarga, serta penguatan jejaring kader dan tokoh masyarakat,”jelasnya.

Ia, menyampaikan bahwa perkawinan anak bukan hanya berdampak pada masa depan pendidikan, tetapi juga berisiko pada kesehatan dan kesejahteraan anak secara jangka panjang. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah sangat penting untuk menghasilkan intervensi yang lebih efektif.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Ira Gustia Ningsih turut membenarkan bahwa besok akan dilaksanakan kegiatan sosialisasi tersebut. Ia mengatakan, bahwa pihaknya terus mendorong program-program perlindungan anak melalui pendekatan persuasif dan peningkatan literasi keluarga.

“Kami ingin memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan tumbuh, belajar, dan berkembang tanpa terhalang perkawinan dini,” ujarnya, Senin (24/11/2025).

Masih dikatakannya, kegiatan bersama ini juga melibatkan tokoh masyarakat, kader, serta kelompok perempuan untuk memperkuat suara penolakan terhadap perkawinan anak. Dengan sinergi yang kuat, APM dan Dinsos PPA berharap angka perkawinan anak di Merangin terus menurun dan kesadaran masyarakat semakin meningkat.

“Upaya ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman, terlindungi, dan ramah bagi anak-anak, sekaligus memperkuat komitmen Merangin menuju daerah yang peduli terhadap masa depan generasi muda,”pungkasnya.

Reporter : Yazdi